Galaxsinews.com ,Kota Metro- Belakangan ini tampak seperti panggung sandiwara yang tak pernah kehabisan adegan. Jika harus diberi judul, mungkin yang paling pas adalah ” Politik Kambing Hitam Di Tubuh Birokrasi “, Sebuah situasi di mana kesalahan selalu punya alamat, tapi kebenaran justru kehilangan rumahnya.
Di balik layar pemerintahan, terasa ada kekuatan tak kasat mata yang justru lebih dominan daripada kebijakan resmi. Program-program yang seharusnya berjalan lurus, malah berbelok arah, bukan karena perencanaan, melainkan karena tarik-menarik kepentingan. Jika dibandingkan dengan era sebelumnya, kondisi ini lebih mirip arena adu pengaruh ketimbang roda pemerintahan yang sehat. Pemodal, pendukung, hingga kelompok berkepentingan seakan berlomba mengisi ruang kepala daerah dengan bisikan yang saling bertabrakan.
Ironisnya, jika menilik rekam jejak sang wali kota, kapasitas kepemimpinan seharusnya bukan menjadi persoalan utama. Namun realitas di lapangan berkata lain. Di tengah pusaran kepentingan, peran kepala daerah perlahan tereduksi, bukan lagi sebagai pengambil keputusan tertinggi, melainkan sekadar simbol administratif.
Pemerintahan berjalan, tapi arah komandonya dipertanyakan.
Publik pun mulai membaca tanda-tanda. Ketika mutasi jabatan terasa janggal dan proyek infrastruktur berubah menjadi ladang kepentingan, muncul kesan bahwa ada “tangan lain” yang lebih menentukan. Sosok yang mungkin tak tampil di depan, namun jejaknya terasa di setiap keputusan.
Jika memang ada yang lebih berkuasa dari yang terlihat, masyarakat tampaknya sudah cukup cerdas untuk menyimpulkan. Sebab dalam politik, yang paling berbahaya bukanlah kesalahan, melainkan ketika kekuasaan tak lagi berada di tempat yang seharusnya.(Rio S)






















